www.bbmriau.com
Otonomi | Pekanbaru | Rohil | Pariwara | Opini | Indeks
 
Ketika Euforia Belanja Online Mewabah
Kamis, 21-01-2016 - 12:37:03 WIB

SAAT ini, berbagai kebutuhan hidup mulai dari pakaian, makanan, peralatan rumah tangga, hingga barang elektronik, dengan mudah dibeli hanya dengan sebuah gawai, tablet, dan komputer.

Bukan mustahil lagi, dengan duduk santai di rumah, atau bahkan sambil tiduran, ngemall dapat berlangsung dan barang kebutuhan terbeli tanpa harus keluar rumah dan bermacet-macet ria di jalanan.

Mudahnya mengakses online shop di mana saja dan kapan saja, tak dipungkiri memberi manfaat dalam hal efisiensi waktu dan tenaga di tengah padatnya aktivitas rutin yang harus dijalani. Dengan kata lain, saat ini berbelanja tak lagi harus mengunjungi mall-mall, pasar, maupun toko-toko fisik yang ada. Sebab, hanya dengan menatap layar, memilih dan meng-klik barang yang diinginkan, lalu memilih metode pembayaran (biasanya dapat dilakukan dengan kartu debit, transfer via ATM, paypal, maupun mobile banking dan COD-cash on delivery), maka selanjutnya tinggal menunggu barang tiba di depan pintu rumah. Praktis, mudah, dan menyenangkan! Semua itu berkat perkembangan teknologi dipadu kecakapan manusia dalam memanfaatkan berbagai portal belanja online dan media sosial yang ada!

Pun menjawab kebutuhan manusia akan berbelanja yang 'mudah', belakangan telah muncul sejumlah situs belanja online seperti Tokopedia, Matahari Mall, Berrybenka, Zalora, Blibli, Bukalapak, Lazada, dan Elevenia, yang mana masing-masing menawarkan kemudahan berbelanja, diskon, pun promo secara berkala dan terkadang 'gila-gilaan' untuk menarik minat pembeli.

Tak hanya sebatas online shop yang menawarkan barang-barang baru dengan model yang sedang tren, toko dunia maya dan media sosial yang menawarkan lapak khusus barang bekas pun dapat ditemukan bak jamur di musim hujan, salah satunya OLX, dan sejumlah akun di Facebook dan Instagram dengan kata kunci 'preloved-bekas'.

Sejalan dengan kemudahan-kemudahan yang ditawarkan dengan akses internet dalam hal berbelanja ini, adalah juga sisi positifnya di mana manusia-manusia kreatif mulai memanfaatkan fenomena belanja online untuk membangun usaha mulai dari kelas usaha kecil menengah; sebagai pedagang, penyalur, maupun produsen.

Akan tetapi meski menawarkan banyak kemudahan, euforia belanja online ternyata juga memiliki sejumlah sisi negatif dan risiko yang terkadang luput diperhatikan konsumen:

Meningkatkan Gaya Hidup

Banyaknya penawaran diskon dan promo - dengan jangka waktu yang pendek - pada toko-toko online yang ada, sering menggiurkan dan membuat lupa diri pada saat berburu barang-barang murah, lantas membeli dalam jumlah banyak melampaui kebutuhan.

Disadari maupun tidak, memburu barang murah secara berlebihan pada akhirnya justru berpotensi meningkatkan pengeluaran dan terjadilah pemborosan, terutama juga membentuk sifat konsumerisme berlebih ketika keinginan membeli tersebut semakin tak terkendali.

Adanya batas waktu yang relatif singkat dari penawaran diskon suatu barang, menjadikan orang beramai-ramai berlomba meng-klik - sebagai tanda jadi pembelian suatu barang, dan berharap 'memenangkan' barang diskon tersebut, tanpa sempat berpikir panjang maupun melakukan pengecekan harga sesungguhnya dari barang yang ditawarkan. Dalam hal ini, meski tak mewakili semua toko online, namun adalah fakta juga adanya toko-toko online yang memberikan diskon ecek-ecek - harga dinaikkan dahulu, baru didiskon ke harga normalnya.

Dengan canggihnya teknologi internet saat ini, sesungguhnya tidaklah sulit mengecek harga normal dari sebuah barang. Seperti mesin pencari 'Mbah' Google yang kian akrab dengan kehidupan kita, tidaklah sulit memanfaatkannya untuk mengetahui benar tidaknya sebuah barang telah mengalami pemotongan harga; pun menggunakannya untuk membandingkan harga antara satu toko online dengan toko online lainnya. Hanya saja, tentunya dibutuhkan nalar jernih untuk melakukan semua itu sebelum meng-klik 'tanda jadi' pembelian.

Menjadi Korban Penipuan

Meskipun memiliki label dan motto yang selalu terpercaya dan meyakinkan, tak sedikit toko online - maupun mitranya, yang mencoba melakukan penipuan terhadap kon-sumennya.

Memanfaatkan kondisi di mana pembelian barang secara online hanya berdasar pada pengamatan gambar (yang selalu terlihat cantik dan baik) di layar komputer, tablet, maupun gawai, maka pengiriman barang tak sesuai penawaran sangatlah mungkin terjadi dan merugikan konsumen.

Merupakan pengalaman penulis: membeli barang secara online, barang yang dikirimkan bukan hanya tak sesuai penawaran/pesanan, malah adalah barang rusak dan rongsokan (yang bahkan tak pantas dijual di pasar loak).

Ketika telah memutuskan untuk membeli sesuatu secara online, agar terhindar dari praktek penipuan, konsumen haruslah membaca dan memahami dengan baik apa yang menjadi ketentuan toko online bersangkutan; apa yang menjadi kesepakatan bersama, hak-hak sebagai konsumen, dan (yang paling penting) ke mana konsumen dapat melapor dan meminta pertanggungjawaban jika ternyata barang yang dikirim tidak sesuai pesanan/penawaran.

Sebagai manusia yang hidup di zaman serba elektronik; adalah suatu keberuntungan dapat menikmati berbagai kemudahan hidup dengan sejumlah fasilitas online yang tersedia. Menghadapi wabah belanja online, terimalah dan pelajari serta nikmatilah segala kemudahan dan manfaat yang diberikan, akan tetapi, tetaplah waspada terhadap dampak buruk dari euforia belanja online! ***

Penulis adalah ghostwriter/co-writer




 
OPINI
Apa Itu Hak Fidusia ???
Karamnya Kapal Yang Bernama " Keadilan Hukum"
Ketika Euforia Belanja Online Mewabah
Avanza-Xenia Sebaiknya Dilarang Beredar
Penegakan Hukum Hak Cipta Compact Disc (CD) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002
Surat Edaran "Hate Speech", Perlukah Sertifikasi Khotib?
Korupsi yang Semakin Enigmatik
 
Otonomi | Pekanbaru | Rohil | Opini | Indeks
Redaksi Disclaimer Pedoman Tentang Kami Info Iklan
© 2015-2019 PT. BBM RIAU PERS, All Rights Reserved